Jumat, 01 Januari 2016

Penggunaan Antibiotik Yang Tepat

Hati-Hati Menggunakan Antibiotik

Antibiotik merupakan salah satu jenis obat yang sering diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri dan beberapa parasit tertentu. Obat ini sangat banyak macamnya yang terkadang dapat membingungkan, sehingga penting sekali mengetahui golongan antibiotik serta fungsinya masing-masing.
Ingat, fungsi antibiotik adalah membunuh bakteri sehingga tidak dapat digunakan untuk mengobati infeksi virus seperti batuk pilek, DBD, cacar air, dll. ataupun infeksi jamur kecuali ada infeksi sekunder  oleh bakteri yang menyertainya. Untuk virus dan jamur sudah tersedia obat khusus yaitu anti virus dan anti jamur (anti fungi).
Ø Jenis-jenis Antibiotik
Ada banyak jenis antibiotik dengan berbagai nama dan merek. Penggolongan antibiotik berdasarkan mekanisme kerja nya. Setiap jenis antibiotik hanya bekerja terhadap beberapa jenis bakteri atau parasit tertentu. Inilah sebabnya mengapa antibiotik yang berbeda digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi yang berbeda. Jenis golongan antibiotik yang utama meliputi:
·         Penicillins, contohnya penicillin V, flucloxacillin, and amoxicillin.
·         Cephalosporins, contohnya cefaclor, cefadroxil, cefalexin.
·         Tetracyclines, contohnya tetracycline, doxycycline, and minocycline.
·          Aminoglycosides, contohnya gentamicin, amikacin, and tobramycin.
·         Macrolides, contohnya erythromycin, azithromycin, and clarithromycin.
·          Clindamycin.
·         Sulfonamides and trimethoprim, contohnya co-trimoxazole.
·         Metronidazole and tinidazole.
·         Quinolones, contohnya ciprofloxacin, levofloxacin, and norfloxacin.

Ø Fungsi atau Mekanisme Kerja Antibiotik
            Ada dua mekanisme kerja utama antibiotik yaitu membunuh (bakterisidal) dan menghambat bakteri (bakteriostatik). Antibiotik yang memiliki mekanisme kerja berfungsi membunuh bakteri sering dilakukan dengan cara merusak struktur dinding sel bakteri sehingga bakteri akan mati dengan antibiotik tersebut. Sedangkan antibiotik yang menghambat bakteri yaitu dengan cara menghentikan perkembangbiakan bakteri sehingga sisa bakteri akan dibunuh oleh sistem pertahanan tubuh manusia.
Ø Kapan Antibiotik Digunakan?
Antibiotik biasanya hanya untuk diresepkan infeksi bakteri yang lebih serius, dan untuk beberapa infeksi parasit. Penyakit infeksi yang sering disebabkan oleh virus, maka tidak memerlukan antibiotik. Bahkan penyakit infeksi bakteri yang ringan, juga tidak perlu karena sistem kekebalan tubuh dapat mengusirnya. Jadi, jangan heran jika dokter tidak merekomendasikan antibiotik untuk kondisi yang disebabkan oleh virus atau infeksi non-bakteri, atau bahkan untuk infeksi bakteri yang ringan. Namun, Anda perlu antibiotik jika mengalami infeksi bakteri yang serius seperti meningitis atau pneumonia.
Ø Dengan begitu banyaknya jenis antibiotik manakah yang kita pilih?
Pilihan antibiotik terutama tergantung pada infeksi bakteri yang menyebabkannya. Hal ini karena setiap antibiotik hanya efektif terhadap bakteri dan parasit tertentu. Misalnya, jika seseorang mengalami pneumonia, dokter tahu bakteri apa yang biasanya menyebabkan pneumonia. Sehingga dokter akan memilih antibiotik yang paling efektif membasmi jenis bakteri tersebut. Selain itu, ada faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam memilih antibiotik, Antara lain: seberapa parah infeksinya, seberapa baik fungsi ginjal dan hati, jadwal dosis, obat lain yang diminum, efek samping, riwayat alergi terhadap jenis antibiotik tertentu, atau jika hamil atau menyusui. Itulah mengapa penggunaan antibiotik harus berdasarkan rekomendasi atau resep dokter.

Ø  Efek samping Antibiotik

Berikut beberapa efek yang ditimbulkan oleh penggunaan antibiotik:
·         Infeksi organ intim.
Hal ini biasanya terjadi pada wanita, dimana pemakaian antibiotik dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri candida secara berlebih. Dimana bakteri candida adalah sumber dari terjadinya keputihan. Biasanya ditandai dengan munculnya rasa gatal, keputihan, serta bau pada daerah vagina.
·         Gangguan pencernakan.
Hal yang paling umum terjadi akibat mengkonsumsi obat dalam jangka waktu yang panjang adalah terjadinya mual, diare, kram dan nyeri pada perut.
·         Menimbulkan Alergi.
 Sebagian orang akan mengalami gejala ini, dimana terjadi gatal-gatal dan pembengkakakn di mulut, bibir dan tenggorokan. Terkadang muncul bintik-bintik pada kulit.
·         Gangguan fungsi jantung.
Gejalanya ditandai dengan merasakan jantung berdebar-debar.
·         Sakit Kepala
·         Berkurangnya nafsu makan
·         Mengganggu sistem kekebalan tubuh.
 Beberapa jaringan tubuh seperti kulit, selaput lendir, dan usus merupakan tempat berkembang biaknya mikroorganisme dan bakteri yang baik bagi tubuh. Penggunaan antibiotik dalam jangka panjang dapat memberantas serta menghambat pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Hal tersebut akan berakibat tubuh kekurangan vitamin, terutama vitamin K dan vitamin B12, sehingga berdampak rentannya tubuh terhadap serangan penyakit menular.
·         Penyakit kuning
·         Timbulnya masalah pada ginjal
·         Gangguan pada saraf, Misalnya seseorang akan merasa kesemutan
·         Menimbulkan efek resistensi pada obat itu sendiri.
Terlalu sering mengkonsumsi antibiotik dapat mengakibatkan efek resistensi terhadap jenis obat itu sendiri.Setelah pemakaian obat dihentikan, tidak menutup kemungkinan suatu saat orang tersebut akan terkena kembali penyakit yang sama.


Ø Penyebab Bakteri Menjadi Resisten
Penggunaan yang tidak tepat dan penyalahgunaan antibiotik adalah penyebab umum resistensi antibiotik, di antaranya:
·         Penggunaan antibiotik untuk infeksi virus.
Banyak pasien berharap atau meminta dokter untuk meresepkan antibiotik ketika terkena flu dan pilek. Padahal, antibiotik hanya untuk mengobati infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Antiobiotik hanya diperlukan bila flu dan pilek sudah ditumpangi infeksi sekunder oleh bakteri. Sebagian besar flu dan pilek tidak memerlukan antiobiotik.
·         Putus obat.
Dosis antibiotik harus dihabiskan secara penuh, bila berhenti meminum antibiotik di tengah  jalan maka beberapa bakteri yang masih hidup akan menjadi resisten terhadap pengobatan antibiotik di masa depan.

Ø Pencegahan Terhadap Resistensi Bakteri
Resistensi bakteri bisa dikurangi dengan pemakaian antibiotik secara bijaksana. Baik dokter maupun pasien dapat turut berperan untuk mengurangi penyalahgunaan antibiotik. Antibiotik hanya boleh diresepkan ketika infeksi bakteri telah terjadi. Mengambil antibiotik untuk infeksi virus bukan hanya membuang-buang waktu dan biaya, tetapi juga membantu meningkatkan resistensi antibiotik. Selain itu, setiap pasien harus menyadari bahwa antiobiotik harus tetap diambil sampai dosisnya habis meskipun gejala-gejala penyakit sudah hilang.




Sumber :